BigMoviesDownload

ngulas dikit film yang baru ditonton ^_^

Sabtu, 25 Oktober 2014

Blue Ruin (2013)



Pembalasan dendam bukanlah tema yang baru dalam sejarah film thriller. Namun jarang yang mengeksekusi tema ini dengan gaya realistis. Kebanyakan  packagingnya hanya mengumbar kebrutalan, ketangguhan super dari para karakternya yang seolah sudah kebal terhadap rasa sakit. Blue Ruin mencoba mengeksplorasi tema ini dengan perspektif yang berbeda. Sang protagonis bukanlah seorang ahli senjata, bukan pula seorang pemikir jenius yang menjebak sang lawan dengan berbagai trik mematikan. Sang tokoh utama cuma bermodal satu hal: ambisi untuk membalas dendam.
Film dibuka dengan menampilkan seorang gelandangan, homeless, dengan penampilan acak-acakan dan jenggot yang tidak terawat. Namanya Dwight Evans. Sehari-hari ia memungut sampah botol untuk menghidupi dirinya. Ia tinggal di mobil usang, hidup tanpa tujuan. Hingga suatu pagi seorang polisi mendatanginya. Bukan untuk menertibkan tempat tinggalnya, melainkan untuk memberitahunya bahwa seseorang dari masa lalunya telah kembali, telah bebas dari penjara. Alih-alih menerima tawaran perlindungan dari si polisi, Dwigth malah beranjak pergi mencari orang tersebut. Sesuatu telah tersulut dari dalam dirinya. Sebuah ambisi untuk menuntaskan sebuah kekacauan yang terjadi di masa lalu, antara keluarga kecilnya dengan keluarga bandit besar yang berbahaya.
Menarik menonton film ini, karena sang tokoh utama digambarkan benar-benar amatiran. Tak ada keahlian memainkan senjata, (kecuali pisau kecil yang asal sekali ia hujamkan, namun membunuh musuhnya dengan begitu mengenaskan). Sang tokoh utama juga tak luput dari rasa takut, khawatir, namun dipenuhi kenekatan yang membuatnya terus berjuang menuntaskan ambisinya. Terdapat satu adegan yang terasa konyol, dimana dia terluka karena sebuah anak panah yang menancap di kakinya, hampir nekat mencabutnya sendiri tetapi gagal dan meminta bantuan dokter untuk menolongnya. Ya, tak ada karakter yang mahakuat di film ini sehingga seluruhnya terasa realistis. Penonton dibuat ikut merasakan ketakutan yang dialami sang tokoh utama. Takut karena dia hanyalah seorang amatiran, yang harus menghadapi satu keluarga bandit bersenjata lengkap demi melindungi anggota keluarganya yang tersisa.
Film ini cenderung minim percakapan. Hamir tak ada dialog sepanjang pertengahan pertama film. Sang sutradara mengajak penonton mengulik sendiri rahasia apa yang dimiliki tokoh Dwight hingga hidupnya berakhir menggelandang. Alur cerita berjalan pelan, namun pasti menuju akhir konflik yang dialaminya. Film ini tak mengumbar adegan-adegan kelewat thrilling, hanya beberapa adegan yang terasa miris dengan kadar kesadisan yang cukup membuat bergidik. Satu nilai lebih dari film ini adalah pembangunan emosi yang kuat. Macon Blair sukses memerankan Dwight Evans dengan segala ketakutan, kebingungan dan kenekatan yang dimiliki karakternya. Jeremy Saulnier selaku sutradara sekaligus sinematografer film ini juga sukses membangun ambient film yang dingin dengan gambar-gambar berlatar indah. Tak heran film ini menuai banyak kritik positif dan memenangkan salah satu award kritikus di festival film Cannes pertengahan 2013 lalu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar