Pembalasan
dendam bukanlah tema yang baru dalam sejarah film thriller. Namun jarang yang
mengeksekusi tema ini dengan gaya realistis. Kebanyakan packagingnya hanya mengumbar kebrutalan,
ketangguhan super dari para karakternya yang seolah sudah kebal terhadap rasa
sakit. Blue Ruin mencoba mengeksplorasi tema ini dengan perspektif yang
berbeda. Sang protagonis bukanlah seorang ahli senjata, bukan pula seorang
pemikir jenius yang menjebak sang lawan dengan berbagai trik mematikan. Sang
tokoh utama cuma bermodal satu hal: ambisi untuk membalas dendam.
Film
dibuka dengan menampilkan seorang gelandangan, homeless, dengan penampilan
acak-acakan dan jenggot yang tidak terawat. Namanya Dwight Evans. Sehari-hari
ia memungut sampah botol untuk menghidupi dirinya. Ia tinggal di mobil usang,
hidup tanpa tujuan. Hingga suatu pagi seorang polisi mendatanginya. Bukan untuk
menertibkan tempat tinggalnya, melainkan untuk memberitahunya bahwa seseorang
dari masa lalunya telah kembali, telah bebas dari penjara. Alih-alih menerima
tawaran perlindungan dari si polisi, Dwigth malah beranjak pergi mencari orang
tersebut. Sesuatu telah tersulut dari dalam dirinya. Sebuah ambisi untuk
menuntaskan sebuah kekacauan yang terjadi di masa lalu, antara keluarga
kecilnya dengan keluarga bandit besar yang berbahaya.
Menarik
menonton film ini, karena sang tokoh utama digambarkan benar-benar amatiran.
Tak ada keahlian memainkan senjata, (kecuali pisau kecil yang asal sekali ia
hujamkan, namun membunuh musuhnya dengan begitu mengenaskan). Sang tokoh utama
juga tak luput dari rasa takut, khawatir, namun dipenuhi kenekatan yang
membuatnya terus berjuang menuntaskan ambisinya. Terdapat satu adegan yang
terasa konyol, dimana dia terluka karena sebuah anak panah yang menancap di
kakinya, hampir nekat mencabutnya sendiri tetapi gagal dan meminta bantuan
dokter untuk menolongnya. Ya, tak ada karakter yang mahakuat di film ini
sehingga seluruhnya terasa realistis. Penonton dibuat ikut merasakan ketakutan
yang dialami sang tokoh utama. Takut karena dia hanyalah seorang amatiran, yang
harus menghadapi satu keluarga bandit bersenjata lengkap demi melindungi
anggota keluarganya yang tersisa.
Film ini
cenderung minim percakapan. Hamir tak ada dialog sepanjang pertengahan pertama
film. Sang sutradara mengajak penonton mengulik sendiri rahasia apa yang
dimiliki tokoh Dwight hingga hidupnya berakhir menggelandang. Alur cerita
berjalan pelan, namun pasti menuju akhir konflik yang dialaminya. Film ini tak
mengumbar adegan-adegan kelewat thrilling, hanya beberapa adegan yang terasa
miris dengan kadar kesadisan yang cukup membuat bergidik. Satu nilai lebih dari
film ini adalah pembangunan emosi yang kuat. Macon Blair sukses memerankan
Dwight Evans dengan segala ketakutan, kebingungan dan kenekatan yang dimiliki
karakternya. Jeremy Saulnier selaku sutradara sekaligus sinematografer film ini
juga sukses membangun ambient film yang dingin dengan gambar-gambar berlatar
indah. Tak heran film ini menuai banyak kritik positif dan memenangkan salah
satu award kritikus di festival film Cannes pertengahan 2013 lalu.






